Categories: Indonesia Lengkap

201 Tahun Perang Jawa, Ruh Diponegoro Digaungkan Melawan Penindasan

Advertisements

YOGYAKARTA  – Penindasan, kemiskinan, kesenjangan sosial, korupsi, dan oligarki kapitalis dinilai sebagai bentuk kolonialisme baru. Semangat perlawanan Pangeran Diponegoro pun diserukan kembali untuk menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan yang masih berlangsung hingga kini.

Seruan itu mengemuka dalam Nyadran Diponegoro untuk memperingati 201 Tahun Perang Jawa (1825–2026) di DC Cafe Reborn, Jalan Damai No.5A, Mudal, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Minggu (19/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri GPBH Prabukusumo, anggota DPD DIY Ahmad Syauqi Soeratno, A’wan PBNU KH Abdul Muhaimin, Ketua Panitia Hary Sutrasno yang juga  nasional cucu pahlawan nasional Mr. Kasman Singodimedjo, Ketua Umum Patra Padi (Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro) Raden Rahardi Saptata Abra, Ketua SAR DIY Brotoseno, budayawan Sigit Sugito, budayawan seniman Yogyakarta serta sejumlah aktivis pergerakan 1980 – 1990.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menyebut, Perang Jawa merupakan salah satu perlawanan besar terhadap kolonialisme Belanda. Selama lima tahun (1825-1830) Belanda mengalahkan dengan kerugian besar. Semangat perang suci agama (jihad) dengan taktik gerilya menjadikan pasukan Diponegoro selalu mendapat kemenangan.

“Secara teori militer, peperangan itu Belanda menang. Tapi kenyataan peperangan dimenangkan pasukan Diponegoro,” kata Agus.

Menurut Agus, Pangeran Diponegoro memiliki karakter perjuangan yang melampaui sekat feodalisme. Pangeran yang dikenal dengan nama Ontowiryo itu memilih meninggalkan lingkungan keraton dan berbaur dengan rakyat.

Sikap egaliter tersebut, lanjut Agus, tidak lahir secara tiba-tiba. Pendidikan agama dan keteladanan keluarga membentuk karakter Diponegoro. Ia juga dikenal dekat dengan tradisi tarekat Sathoriyah. “Jatidiri bangsa kita dirusak oleh kolonial Belanda. Sekarang makin terpuruk,” ujarnya.

Agus menilai, ruh perjuangan Diponegoro perlu dihidupkan kembali untuk menghadapi penjajah politik (oligarki kapitalisme) dan birokrasi korup. Negara, menurut dia, tidak boleh dikendalikan kepentingan kapitalis dan kelompok penguasa yang menjadikan kekuasaan sebagai sarana memperkaya diri. “Kita harus kembali kepada ruhnya Diponegoro. Kekuatan agama harus mengilhami perjuangan. Manunggaling kawula gusti,” kata Agus.

Ketua panitia peringatan Hary Sutrasno mengatakan, Perang Diponegoro merupakan salah satu peristiwa paling dahsyat dalam sejarah Indonesia. Perang yang pecah pada 20 Juli 1825 itu berlangsung selama lima tahun dan menguras kekuatan pemerintah kolonial Belanda.

“Lebih dari tujuh ribu serdadu Belanda tewas. Perang lima tahun ini menghabiskan sepertiga anggaran negeri Belanda saat itu. Jika dikonversi dengan hitungan hari ini, jumlahnya bisa mencapai lebih dari Rp3.000 triliun,” kata Hary.

Acara diakhiri dengan pernyataan para budayawan seniman Yogyakarta.  Mereka yang tergabung dalam Serikat Warga Jogja menyerukan agar perjuangan Pangeran Diponegoro tidak berhenti sebagai romantisme sejarah. Pernyataan sikap yang dibacakan oleh para budayawan. Agung Dahono (aktivis Jaker) menegaskan pentingnya menerjemahkan nilai perjuangan Diponegoro ke dalam keberanian melawan penindasan pada masa kini.

Serikat Warga Jogja juga mengusulkan kajian akademis dan historis sesuai ketentuan yang berlaku mengenai kemungkinan pemindahan makam Pangeran Diponegoro ke Yogyakarta.

Usulan tersebut dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah kelahiran dan jejak perjuangan Diponegoro. Namun, Serikat Warga Jogja menegaskan kedudukan Diponegoro sebagai pahlawan nasional tetap menjadi milik seluruh bangsa Indonesia. “Perjuangan Pangeran Diponegoro belum selesai,” demikian salah satu pesan dalam pernyataan sikap tersebut.

Serikat Warga Jogja menilai warisan perjuangan Diponegoro merupakan sejarah perlawanan terhadap penindasan, eksploitasi, dan penyalahgunaan kekuasaan yang mengorbankan rakyat.

Karena itu, mereka menyerukan penolakan terhadap korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kolusi, nepotisme, serta berbagai praktik yang mencederai keadilan. Kolonialisme, dalam konteks kekinian, dinilai tidak selalu datang dari kekuatan asing. Penindasan juga dapat tumbuh dari dalam negeri ketika kekuasaan disalahgunakan dan kepentingan oligarki kapitalis mengalahkan kepentingan rakyat.

Nyadran Diponegoro pun menjadi pengingat bahwa 201 tahun setelah Perang Jawa, ruh perlawanan terhadap penindasan masih relevan. Sejarah tidak cukup dikenang. Ia harus menjadi keberanian untuk melawan ketidakadilan. (Yuliantoro)

admin

Recent Posts

Bank Muamalat Gandeng Harakah Majelis Taklim Edukasi Perencanaan Keuangan Syariah

JAKARTA - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk terus memperluas edukasi perencanaan keuangan syariah sejak dini…

40 menit ago

Perkara Perdata Nurma Handika Sari Bergulir, Praktisi Hukum Nilai Dasar tuntutan Terhadap Bank

PURWOKERTO - Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto dijadwalkan kembali menggelar sidang perkara perdata dengan tergugat utama…

4 hari ago

Tren Positif, Bank Muamalat Catat Produk Pembiayaan Multiguna iB Hijrah terus Tumbuh

JAKARTA - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat tren positif pada produk pembiayaan Multiguna iB…

4 hari ago

Gandeng LAZNAS BMM dan LAZNAS Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk Hadirkan Program Mukafaah Dai dan Guru Ngaji di Pelosok Negeri

JAKARTA - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk bersama Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Baitulmaal Muamalat…

7 hari ago

Tersedia iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max, Telkomsel Lengkapi Pilihan Bundling Halo dan SIMPATI bagi Pelanggan

JAKARTA - Telkomsel menghadirkan pilihan bundling Halo dan SIMPATI untuk iPhone 18 Pro dan iPhone…

7 hari ago

BEA CUKAI JOGJA, GAGALKAN UPAYA PENYELUNDUPAN SEKITAR 4,2 KILOGRAM EMAS, BERNILAI SEKITAR 11 MILYAR, DI BANDARA YIA

YOGYAKARTA – Bea Cukai Yogyakarta menggagalkan upaya pengeluaran 4.266 gram atau sekitar 4,2 kilogram padatan…

7 hari ago