Categories: Dagang

Batasi Mata uang Digital China, Senator Amerika Kenalkan RUU Pembatasan Transaksi Yuan Digital

Advertisements

JAKARTA– Persaingan dagang antara Amerika Serikat dengan China tampaknya kian sengit. Bahkan, kompetisi ini juga merambah dunia kripto yang tengah marak akhir-akhir ini.

Ini terlihat dari Langkah beberapa anggota parlemen AS yang memperkenalkan undang-undang untuk melarang platform aplikasi di negara itu dari menghosting aplikasi yang memungkinkan transaksi menggunakan mata uang digital bank sentral China, yuan digital.

“Partai Komunis China akan menggunakan mata uang digitalnya untuk mengontrol dan memata-matai siapa saja yang menggunakannya. Kami tidak bisa memberi China kesempatan itu,” kata Tom Cotton (R-Arkansas), Senator AS yang memperkenalkan RUU itu, dilangsir dari Bitcoin.com, Sabtu (25/5/2022).

Menurut Tom Cotton, langkah tersebut untuk sebagai bagian dari memperkenalkan “Membela Amerika dari Authoritarian Digital Currencies Act.”.

Seperti diketahui RUU tersebut disponsori bersama oleh Senator Mike Braun (R-Indiana) dan Marco Rubio (R-Florida).

Menurut teks RUU tersebut, undang-undang tersebut berusaha untuk melarang penggunaan sistem pembayaran mata uang digital yang dioperasikan oleh pemerintah Republik Rakyat Tiongkok dan untuk tujuan lain.

Menurut Senator Cotton, Partai Komunis China akan menggunakan mata uang digitalnya untuk mengontrol dan memata-matai siapa saja yang menggunakannya. “Kami tidak bisa memberi China kesempatan itu,” tegasnya.

Secara khusus, undang-undang tersebut melarang platform aplikasi di Amerika Serikat untuk menghosting aplikasi yang memungkinkan transaksi menggunakan yuan digital (e-CNY) Partai Komunis Tiongkok.

Bagi Senator Braun, Yuan digital Partai Komunis Tiongkok memungkinkan kontrol langsung dan akses ke kehidupan finansial individu. “Kami tidak bisa membiarkan rezim otoriter ini menggunakan mata uang digital yang dikontrol negara sebagai instrumen untuk menyusup ke ekonomi kami dan informasi pribadi warga Amerika,” kata Senator Braun.

Sementara itu, Senator Rubio berpendapat, tidak masuk akal untuk mengikat diri kita pada mata uang digital dari rezim genosida yang membenci kita dan ingin menggantikan kita di panggung dunia.

“Ini adalah risiko keuangan dan pengawasan utama yang tidak bisa ditanggung oleh Amerika Serikat,” imbuh Senator Rubio.

Sejauh ini, China cukup aktif mengembangkan dan menguji mata uang digital bank sentral (CBDC). Menurut data terbaru dari People’s Bank of China (PBOC), yuan digital memiliki 261 juta pengguna unik pada akhir tahun 2021. Selain itu, transaksi senilai lebih dari 87,5 miliar yuan ($ 13,8 miliar) telah dilakukan menggunakan e- CNY. Pada bulan April, bank sentral China menambahkan lebih banyak kota uji untuk yuan digital.(tim redaksi)

admin

Recent Posts

Transformasi Bisnis menuju Segmen Retail dan SME, Bawa Bank Muamalat  Raih Dua Penghargaan

JAKARTA - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk meraih penghargaan TOP GRC Awards 2026 atas keberhasilannya…

4 hari ago

Gandeng BMM, Bank Muamalat Salurkan Bantuan untuk 4.597 Penyintas Gempa NTT

JAKARTA - Lembaga Amil Zakat Nasional dan Nazhir Wakaf Baitulmaal Muamalat (BMM) bersama PT Bank…

6 hari ago

Sidang Kasus Penipuan Pensiunan di Purwokerto: Para Saksi Ungkap Janji Iimbal Hasil Jutaan Rupiah

PURWOKERTO - Terdakwa kasus penipuan dan penggelapan uang para pensiunan di Purwokerto, Nurma Handika Sari…

6 hari ago

Telkomsel Usung Semangat ‘Sepenuh Hati, Memahami’

 Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026 Bersama Pelanggan di Jawa Tengah dan DIY SEMARANG - Memperingati…

1 minggu ago

Usung Tema ‘Think Customer,’ Bank Muamalat Rayakan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026

JAKARTA - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk merayakan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 dengan mengusung…

1 minggu ago

Bentuk Solidaritas dan Kepedulian, AXA Mandiri dan Karyawan Bersatu Salurkan Bantuan bagi Korban Gempa NTT

JAKARTA - PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) bersama para karyawannya menunjukkan solidaritas dan…

2 minggu ago