Categories: Edukasi

Noe Letto: Kelemahan Pendidikan Tidak Mengajarkan Pengalaman Gagal

Advertisements

YOGYAKARTA – Musisi dan budayawan Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto mengkritisi sistem pendidikan nasional. Menurut pencipta dan pelantun lagu berjudul “Ruang Rindu” tersebut, pendidikan nasional tidak mengajari kepada siswa dan mahasiswa soal pengalaman gagal. Konten pembelajaran selalu fokus mengajarkan pengalaman sukses, karena itu dianggap positif.

“Yang kurang dari pendidikan kita, tidak pernah melatih siswa dan mahasiswa menjalani kegagalan,” kritik Noe Letto, di hadapan mahasiswa baru Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Selasa (6/9/2022).

Noe Letto berbicara tentang karakter bangsa yang dikaitkan dengan dinamika media sosial, literasi digital, dan berbagai persoalan kontemporer di Kampus Terpadu UWM Jalan Tata Bumi Selatan, Banyuraden, Gamping, Sleman.

Menurutnya, sekolah dan kampus selalu berbicara kesuksesan tanpa mengaitkan kegagalan. Padahal, tidak ada sukses tanpa mengalami kegagalan. Sementara orang-orang di dalam masyarakat selalu menilai kegagalan orang lain. Sekolah, kampus, dan warga tidak pernah melihat proses keberhasilan seseorang, setelah gagal sekian kali.

“Seribu kegagalan dihapus dengan satu keberhasilan. Tetapi, tetangga dan orang-orang pada umumnya lebih banyak ingat kegagalan orang lain saja,” imbuhnya.

Putra Emha Ainun Najib (Cak Nun) ini mencontohkan, pemilik perusahaan minuman kopi Amerika Serikat, Starbucks. Ketika mau bisnis, bos perusahaan mondar-mandir ke puluhan bank, dan para bos bank selalu menolak.

“Berapa kali dia ke bank untuk dapat modal? Sebanyak dua ratus kali pemilik Starbucks ke bank untuk mendapat pinjaman modal. Dia tidak pernah berpikir frustasi, apalagi bunuh diri. Anda putus cinta satu kali sudah berpikir untuk bunuh diri,” katanya.

Noe Letto menyatakan, proses hidup sebenarnya proses penderitaan. Orang berbicara passion, itu sama saja berbicara penderitaan. Makna akar kata tersebut sebenarnya penderitaan, tetapi orang memakai sebagai semangat, bakat, keinginan, dan lainnya. “Kita bicara passion sebenarnya bukan bicara gairah, cita-cita tetapi kita sedang mengatakan ikuti penderitaan, bukan mengikuti kesempatan,” imbuhnya.

Passion bisa diterapkan dalam kasus penggemar mancing. “Orang mancing itu menderita, berjam-jam nongkrong belum tentu kail dan umpannya dicantol iklan. Saat pulang ke rumah, tanpa bawa ikan, istri marah. Itu sebenarnya passion, bicara pengalaman penderitaan,” kataya.

Usai dialog, Noe Letteo melantunkan dua lagu ciptaannya, yakni “Ruang Rindu”dan “Sebelum Cahaya”. Para mahasiswa generasi Z itu mengikuti dua lagu itu dengan penuh antusias.(tim redaksi)

admin

Recent Posts

AXA Mandiri, AXA Financial Indonesia dan AXA Insurance Bekerja Sama dengan LFC Retail Indonesia, Hadirkan Dua Legenda Liverpool FC

DENPASAR - Sebagai bagian dari kemitraannya dengan Liverpool FC sebagai Official Global Training Partner, PT…

2 hari ago

Hingga Agustus 2026, Jumlah Transaksi Isi Ulang Kartu Uang Elektronik via Muamalat DIN Alami Pertumbuhan Hingga 180,52%

JAKARTA - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk terus mendukung pengembangan ekosistem pembayaran digital nasional, salah…

4 hari ago

Investasi Bodong di Purwokerto, Hakim Tegaskan Dika Lakukan Praktik Money Game

PURWOKERTO - Terdakwa kasus pidana penipuan dan penggelapan dana para pensiunan di Purwokerto, Nurma Handika…

5 hari ago

Bareng ADPLK, DPLK Syariah Muamalat Dorong Peningkatan Literasi dan Inklusi Dana Pensiun Syariah di Indonesia

JAKARTA - Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Syariah Muamalat sebagai pelopor industri dana pensiun syariah…

6 hari ago

Transformasi Bisnis menuju Segmen Retail dan SME, Bawa Bank Muamalat  Raih Dua Penghargaan

JAKARTA - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk meraih penghargaan TOP GRC Awards 2026 atas keberhasilannya…

2 minggu ago

Gandeng BMM, Bank Muamalat Salurkan Bantuan untuk 4.597 Penyintas Gempa NTT

JAKARTA - Lembaga Amil Zakat Nasional dan Nazhir Wakaf Baitulmaal Muamalat (BMM) bersama PT Bank…

2 minggu ago