Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2026, Dibuka Gubernur DIY
YOGYAKARTA- Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) adalah momentum perjumpaan nilai, bukan sekedar pertemuan tradisi melainkan pertemuan kesadaran. Demikian disampaikan Gubenur DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), Sri Sultan Hamengku Buwono X, ketika membuka PBTY 2026, Rabu malam (25/02), di jalan Suryatmajan, Danurejan Yogyakarta.
“Dalam kebijaksanaan Tiongkok dikenal konsep Yin dan Yang, keseimbangan antara terang dan teduh, antara gerak dan diam, antara kekuatan dan kelembutan, Kehidupan tumbuh bukan pada satu sisi, melainkan dalam keselarasan dua kutub yang saling melengkapi,” lanjutnya.
Dua nilai luhur dari bahasa dan tradisi yang berbeda, menurut Sri Sultan, bertemu dalam satu pesan yang sama yakni keseimbangan sebagai fondasi peradaban yang merupakan energi perubahan yang terarah dalam kebijaksanaan.
“PBTY tahun ini kian bermakna karena berlangsung dalam suasana Ramadhan, dimana ruang budaya tetap terbuka, sebagai perjumpaan nilai. Hadirnnya acara Tausyiah, Takjil dan berbagai kegiatan bersama lainnya, sebagai penanda bahwa kebudayaan dan ketaqwaan dapat berjalan beiringan,” tandasnya.
Sementara itu Ketua Panitia PBTY 2026, Jimmy Sutanto menjelaskan PBTY bukan sekedar perayaan, tapi sebagai simbol kebersamaan, yang tahun ini sudah memasuki tahun ke 21.
“PBTY diselenggarakan mulai 25 Februari hingga 3 maret, di kampung Ketandan, Yogyakarta. dengan berbagai acara, seperti Pameran Budaya Tionghoa, Panggung Kesenian, Pertunjukan Wayang Potehi, Tausyiah Ramadhan, Takjil Bersama, Talkshow, Berbagai Lomba, Karnaval Imlek dan banyak lagi,” tambahnya.
Turut hadir pada pembukaan PBTY 2026, Konsulat Jendral Republik Rakyat Tiongkok, Ketua DPRD DIY, segenap pimpinan Forkompimda DIY, Bupati dan Walikota se-DIY, pejabat lingkup DIY dan tokoh masyarakat komunitas Tionghoa Yogyakarta. (Norsita)











