Memanfaatkan Terapi Memaafkan
Judul Buku : Forgiveness Therapy
Penulis : Asep Haerul Gani
Penerbit : Penerbit Kanisius
Tahun : Cetakan Kelima, 2015
vi + 161 halaman
ISBN : 978-979-212-859-8
Memaafkan adalah proses melepas rasa nyeri, kemarahan, dan dendam yang disebabkan oleh pelaku. Everett Worthington Jr menyatakan, memaafkan adalah mengurangi atau membatasi kebencian serta dendam yang mengarah kepada pembalasan. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa memaafkan lebih dari sekedar membuang hal-hal negatif. Memaafkan juga menggerakkan seseorang untuk merasakan kebaikan dari pelaku. Dengan kata lain, memaafkan tidak hanya mengenyahkan emosi negatif tetapi juga menggerakkan Anda ke perasaan positif.
Philpot (2006) menyatakan, memaafkan sebagai proses atau hasil dari proses yang meliputi perubahan perasaan dan sikap terhadap pelaku. Sejumlah peneliti memandangnya sebagai proses yang diniatkan dan disengaja, didorong oleh keputusan untuk memaafkan. Hasil dari proses ini adalah menurunnya dorongan untuk mempertahankan perasaan tuntutan pelepasan emosi negatif kepada pelaku.
Penggambaran mengenai memaafkan telah ditulis penulis Asep Haerul Gani, untuk memulai buku berjudul Forgiveness Therapy ini. Buku yang oleh penulisnya dirancang juga sebagai buku pegangan dan latihan, memiliki 10 bab yang ada di dalamnya. Buku yang dimulai dengan bab pertama, pendahuluan berisi mengenai pengertian awal memaafkan. Oleh penulisnya, disarankan untuk membacanya dari awal hingga akhir, secara berurutan. Memang, sebaiknya begitu, meski seandainya Anda membaca memilih bab yang disukai, tidak begitu mengganggu memahami buku ini.
Pada bab kedua, penulis menyinggung kembali apa itu memaafkan. Tentu lebih dalam lagi. Termasuk pengertian bahwa memaafkan melampau : (1). Menerima apa yang sedang terjadi, (2). Menunda kemarahan, (3) Bersikap netral terhadap orang lain, (4). Membuat diri sendiri merasa baik. Di sini, penulis juga menambahkan dengan bahan-bahan yang bisa menjadi renungan. Penulis mengingatkan, bahwa memaafkan bukanlah (1).Memaklumi, (2). Melupakan, (3). Pembenaran, (4). Menenangkan, (5). Memaafkan palsu dengan menyatakan, “saya memaafkanmu”, (6). Memaafkan tidak sama dengan tidak mengadili, (7). Memaafkan tidaklah selalu harus diiringi dengan perdamaian.
Pada bab 3, Asep menulis mengenai siapa yang harus memaafkan. Ternyata, hasil dari workshop, penulis menyebut pelaku yang dipersepsikan sebagai tokoh yang harus dimaafkan adalah tuhan, nabi, diri sendiri, orang tua, mertua, saudara kandung, saudara tiri, suami/istri, saudara ipar, guru, murid, pelanggan/penjual, mitra bisnis, sahabat, pacar, atasan, bawahan, anak, menantu, tetangga. Jangan salah, saat orang galau, siapapun bisa dipersalahkan.
Bab empat, penulis berkisah mengenai tempat yang pantas untuk memaafkan. Ia menyebut (1) tradisi memaafkan, yakni saat Lebaran. Namun, sejatinya, ada tempat yang tepat untuk lokasi memaafkan. Yakni, pada diri sendiri. Memang benar, peristiwa yang memicu perasaan adalah realitas eksternal di luar diri. Saat realitas itu diolah sehingga menjadi realitas internal diri. Cara mengolah realitas eksternal akan mempengaruhi olahan di internal diri. Karena itu, bertanggung jawab atas efek yang terjadi pada internal di diri, bukanlah orang lain, melainkan diri Anda sendiri.
Pada bab lima, ada pertanyaan mengapa memaafkan? Pertanyaan itu biasanya diiringi dengan uraian fakta bahwa orang yang dimaksud telah melukai, merugikan, bahkan menghancurkan dirinya. Ada beberapa fakta di lapangan, saat orang tidak memaafkan. Yaitu, (1). Memperoleh simpati dan perhatian dari sekeliling, (2). Menunjukkan bahwa secara moral Anda benar dan pelaku salah, (3). Melakukan pembenaran atas kemarahan yang terjadi, (4). Memaafkan sama saja menjadi pencundang, (5). Memaafkan adalah bentuk dari ketidakmampuan membela hak, (6). Memaafkan adalah member keuntungan kepada si pelaku sehingga si pelaku akan berbuat lagi. Padahal, lagi-lagi penulis mengingatkan, ada manfaat nyata dari memaafkan, di antaranya tekanan darah menjadi lebih normal, penuruan stres, kemarahan mereda, memiliki ketrampilan mengelola kemarahan yang lebih baik, menurunkan gejala-gejala depresi yang rendah, hingga meningkatkan kesehatan jiwa dan raga. Di bab ini pula, penulis menegaskan, memaafkan atau tidak memang menjadi sebuah pilihan.
Kapan saat yang tepat untuk memaafkan? Penulis menjelaskannya di bab enam. Ada 18 saat yang tepat memaafkan, menurut penulis. Di antaranya, saat Anda menahan sakit, kecewa, dan pahitnya hidup serta kebencian, semua bagian kehidupan Anda pun mengalami penderitaan. Kemudian, saat Anda mudah terpicu oleh peristiwa yang memiliki kemiripan dengan peristiwa, saat Anda merasa sering salah paham, hingga saat Anda mudah dan sering merasakan penderitaan pada kehidupan Anda sekarang.
Bab pertama hingga bab enam, oleh penulis memilah dalam bagian pertama, yang berisi mengenai teori-teori pemaafkan. Pada bagian kedua, yang berisi dari bab tujuh dan delapan, yang mengandung isi tahapan pemaafan dan cara pemaafan. Pada bagian ketiga, diisi oleh bab sembilan dan sepuluh, menceritakan kisah-kisah penyembuhan dengan pemaafan, serta kutipan tentang pemaafan.
Pada bab tujuh, penulis membeberkan mengenai tahapan pemaafan. Fred Luskin membagi empat tahapan dalam memaafkan. Yaitu, kesadaran bahwa diri Anda dipenuhi kemarahan, kesadaran perasaan yang Anda alami berbahaya bagi diri Anda, memilih tindakan yang lebih bermanfaat, dan mengambil tindakan proaktif.
Lagi Fred Luskin, lain pula dengan Dr Robert Merkle dan Max B. Skousen. Mereka juga membagi dalam empat tahapan, hanya berbeda. Yakni, (a). tahap pertama, hiduplah dalam dunia nyata, bukan dunia imajinasi, (b). Gunakanlah cara Tuhan memandang sesuatu, bukan cara pandang Anda, (c). memaafkan adalah hadiah untuk Anda, bukan hadiah bagi orang lain, (d). Sadar bahwa hadiah itu dari Tuhan. Tidak hanya mereka, penulis juga memaparkan tahapan yang disarankan Robert D. Enright, Chatherina Morgan, dan Patrick Miller.
Bab delapan, berisi cara-cara memaafkan. Penulis memulai dari saran yaitu dengan melakukan meditasi cinta kasih, dilanjutkan Anda untuk menguasai pikian sendiri. Serta berusaha menjadi subyek dan bukan obyek. Ia juga mengajak untuk meraskan emosi negatif, dan pelan-pelan untuk mengalirkan dan membuangnya. Cara ini dilakukan dengan latihan mandiri, dan ada tahapan lain yang harus dilakukan. Dalam bab ini, penulis juga memberikan saran untuk mempraktikkan, misal dengan cara ego state therapy atau empty chairs technique, juga bisa dengan ego state therapy (conversational technique). Bahkan, penulis memberi cara lain, melalui metode Syaikh Bahauddin Naqsyabandiy.
Pada bab sembilan, dikisahkan penyembuhan dengan memaafkan. Penulis memberi beberapa contoh dan bisa menjadi tauladan bagi kita semua, yang membacakan buku ini secara komplit. Dan bab terakhir, bab 10, penulis menutup dengan beberapa kutipan tentang memaafkan. Ada lebih dari 50 kutipan yang ditulis, di antaranya, Apakah saya tidak mengalahkan musuh saya saat saya bersahabat dengan mereka? (Abraham Lincoln), dan Lebih mudah memaafkan seorang musuh daripada memaafkan seorang sahabat (William Blake).
Buku yang menarik dan simple. Pembaca bisa mempraktikkan langsung di rumah, karena memang buku ini juga berfungsi sebagai buku pegangan. Oleh penerbit juga dibuat dengan ukuran lebih kecil, sehingga mudah dibawa ke mana-mana dan tidak merepotkan. Sayangnya, buku ini miskin ilustrasi atau gambar, sehingga kesannya monoton dan menggurui. Lepas dari kekurangannya itu, kehadiran buku ini di ruang baca rumah Anda, menambah wawasan dan pengetahuan mengenai buku psikologi popular dan terapan. Anda juga langsung bisa mempraktikkannya. Selamat memaafkan.(***)
Heru Setiyaka, Praktisi Media, sudah menyelesaikan Magister Psikologi di Univeristas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.










