Berbagi Cerita, Usai Jalankan Program Business Coaching

Advertisements

Judul Buku      : 2 Wajah, 1 Napas,

(Pikiran, Perasaan dan Pengalaman Coach dan Coachee dalam Program

Business Coaching).

Penulis            : Ridwan Mahmudi

Penerbit           : Strategy Cita Semesta

Tahun              : Cetakan Pertama, Agustus 2020

227 Halaman  (xiv + 183 halaman)

ISBN               : 978-623-9445-00-3

Yang kecil juga ingin menjadi besar. Yang sudah besar, ingin menjadi raksasa, atau setidaknya bertahan untuk tetap besar dan tidak berubah menjadi kecil. Kira-kira itulah kalimat yang tepat menggambarkan kondisi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia. Sebagaimana dalam buku berjudul “Dua Wajah Satu Napas” ini, kondisi naik turun, proses memulai usaha dan menjadi tenar ada di dalamnya. Tidak mudah memang, ada lika-liku perjalanan yang terkadang terjal, menghadapi kesulitan, atau landai mengenakkan, karena jalan kesuksesan sudah tinggal menapakinya.

Buku ini merupakan karya dari Ridwan Mahmudi, seorang karyawan sebuah perbankan dan pernah bekerja di multi finance dan berakhir menjadi seorang konsultan. Juga mengalami lika-liku yang tidak mudah dijalani. Ridwan Mahmudi sudah bertekad bulat menjalani profesi coach, konsultan, dan trainer. Awal mula saat menjadi konsultan, RM-bolehlah Ridwan Mahmudi disapa-banyak bersinggungan dengan dunia korporasi dan menjadikan posisioning dirnya sebagai trainer dan coach bagi corporate.

Sebagai warga Depok, persinggungan dengan UMKM dimulai saat bertemu dengan Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro (DKUM) Depok Ir H Mohammad Fitriawan dan bersepakat memajukan dan mengembangkan UMKM di Depok. Bersamaan dengan terbitnya buku ini, telah tiga tahun RM bergelut dengan para pelaku UMKM, yang kebanyakan adalah emak-emak.

Membersamai para emak-emak tersebut, diakui RM banyak suka-dukanya. Selain rempong dan “banyak maunya’, para pelaku UMKM (emak-emak, red) memiliki semangat membara dan pantang menyerah. Mereka selalu bersemangat  untuk menjadi lebih baik, dan lebih besar usaha yang digelutinya. Disinilah peran RM tercermin dalam buku ini, bagaimana keterlibatan dia memberikan pendampingan (business coaching) bagi pelaku usaha mikro. Buku ini memang berisi 11 orang peaku usaha yang bersedia berbagi cerita. Namun, bukan jumlah itu saja yang berhasil didampingi, namun ratusan pelaku UMKM sejak 2018, 2019, dan 2020 yang harus dipupuk, diberi semangat, dan tetap ditemani dalam menjalankan usaha-usahanya yang beragam.

RM sendiri telah melakukan survei singkat, ternyata 85 persen pelaku usaha mikro dijalankan para emak-emak. Dari dari mereka, dominan (80 persen) adalah di bidang kuliner. Pemerintah Kota Depok menyadari itu, sebagai keberadaan usaha kuliner tidaklah berlebihan. Karena, di Depok pula, kebanyakan pekerja ibukota bertinggal di Depok, selain Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Banyaknya perumahan membuat perkembangan suatu daerah menjadi pesat. Kuliner adalah salah satu pendukung utama perkembangan tersebut, selain property dan fasilitas lainnya. Maka, pilihan di bidang kuliner untuk dibina adalah keputusan yang tepat.

Buku ini terdiri dari dua bagian, di mana pada bab satu sampai tujuh, lebih banyak pemikiran dari RM. Mulai dari gado-gado coaching, mindset, customers, produk, marketing, distribusi hingga finansial. Semua merupakan basic dari teori untuk menjalankan sebuah usaha secara professional. Semua itu menjadi bekal untuk memajukan diri seiring menjalankan usahanya. Memang, seringkali teori tidak mudah dipraktikkan. Tetapi, semua itu wajib dijalani agar sukses.

Dalam buku ini, RM memaparkan pula mengenai program wira usaha baru (WUB), yaitu pelatihan unggulan Pemkot Depok yang ditujukan untuk wirausaha baru dengan masa usaha kurang dari enam bulan. Ada 270 orang, perwakilan dari 11 kecamatan di Depok mengikuti seminar dan pelatihan tersebut. Tidak berhenti di situ, para alumni WUB tersebut didampingi untuk memastikan agar pelatihan yang didapatkan berdampak pada perkembangan bisnis. Ada beberapa coach yang mendampingi termasuk RM. Beliau mendampingi para pelaku usaha dari tiga kecamatan di sekitar lokasi RM tinggal. Kebetulan RM juga tinggal di Depok. Tujuannya unutk lebih memudahkan coach dan coachee dalam koordinasi maupun proses pendampingan. Periode pendampingan selama enam bulan setelah pelatihan WUB. Pendampingan dilakukan dalam bentuk tatap muka one on one maupun group. (halaman 8).

Dalam melakukan pendampingan, RM menggambarkannya dalam bentuk :

  1. Kegiatan one on one coaching. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada pelaku usaha berdiskusi dengan RM dua minggu sekali, selama 45 menit sampai 60 menit. Mereka membahas dan mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan bisnis masing-masing. Harapannya, model ini menghasilkan pembahasan lebih detail dan matang. Alasannya, tantangan bisnis masing-masing berbeda, sehingga perlu solusi yang berbeda. Begitu selesai, setiap pelaku usaha membawa pulang pekerjaan rumah berupa action plan yang harus dijalankan. Progress dari action plan tersebut harus dilaporkan untuk dibahas dalam bahasan pertemuan berikutnya.
  2. Kegiatna group mentoring. Kegiatan ini bersifat incidental. Kegiatan dilakukan jika ada peserta yang memiliki tantangan yang sama. (halaman 11). RM mencontohkan, saat pelaku usaha kuliner belum memanfaatkan aplikasi ojek online (gofood atau grabfood), untuk mempercepat akselerasi, dibuatlah kelas mentoring dari mendaftar hingga mengelola penjualan di aplikasi online tersebut. Demikian pula saat menggelar kelas fotografi, RM mengundang ahlinya untuk membantu pelatihan fotografi atau menyesuaikan tema mentoring.
  3. Adanya aplikasi WA memudahkan coach dan coachee berhubungan. Konsultasi via WhatsApp lebih mudah dan dibuatkan WAG. Cara ini juga menjadikan ajang berbagi pengalaman, wawasan, dan sharing artikel yang terkait UMKM.

Coach RM juga mengajak pelaku UMKM merumuskan STP Marketing. Yakni, segmentation (segmen calon customer yang dibidik), Targeting (target yang dituju, siapa yang akan dilayani), dan Positioning atau lebih pada bagaimana mereka memposisikan diri dalam melayani targer market yang sama terhadap competitor sejenis yang sudah terlebih dahulu ada, sehingga mereka memiliki pembeda dan menjadi pilihan bagi customer.

Lainnya, Coach RM juga mengajak pelaku UMKM memahami marketing, pendistribusian barang, pengembangan usaha melalui berbagai alternatif pilihan, seperti memmbuka took sendiri, membuka cabang sendiri, konsinyasi, kemitraan non-konsiyansi, dan kerja sama lainnya, hingga permodalan yang perlu dipersiapkan agar usahanya berkembang.

Sebelum melangkah pada semua itu, buku ini terasa berbobot dengan menghadirkan beberapa tulisan pengantar. Di antaranya, Dr Agung Sudjatmoko MM, Wakil  Ketua Umum Dekopin yang juga Dosen Universitas Binus, kemudian ada Anggota DPRD Kota Depok yang juga penggiat UMKM Ade Supriyatna, Pendamping UKM Ubaidillah hingga Dodong Cahyono, pemerhati UMKM, professional perbankan dan angel investor.

Adapun bab 8 sampai bab18, berisi aneka pengalaman dari para pelaku UMKM. Mulai dari Asinan Mak Haji, King Nasi Bakar, Skincip (kripik kulit ikan Salmon), EmJ Cake and Cookies, Moga.co, Hen’s Food and Frozen, Soto Kebo Suegeer Boyolali, Café Putri, Rinis’s Cake, Kancana Food, dan Ayam Bebek “Neng Rat.” Masing-masing pelaku UMKM menceritakan bagaimana jatuh-bangun menjalankan usahanya dan dianggap sukses seperti sekarang. Mereka memiliki pengamalan dan kisah sendiri-sendiri. Tetapi, mereka memiliki benang merah persamaan, yaitu tekad berjuang dan yakin sukses akan datang pada mereka.

Buku ini, bagi pelaku UMKM sangat berarti. Dengan membaca buku semacam ini, mereka tetap menjaga semangat berjuang dan berkembang. Memang lazimnya pelaku UMKM di manapun, kebulatan tekad dan semangat yang membara patut dikobarkan terus-menerus, agar api perjuangan tetap terjaga. Salah satu caranya, berteman dan bertemu dengan sesama pelaku UMKM, sehingga bisa saling sharing dan menyemangati, serta membaca buku-buku semacam ini, agar motivasi berusaha tetap terjaga. Buku ini ditulis dengan gaya tutur yang mudah dicerna. Selain pelaku UMKM, buku ini patut juga dimiliki oleh para mahasiswa ekonomi, pejabat yang mengurusi UMKM, baik dipusat maupun di daerah.

Sebagai ‘kitab coaching’, buku ini dibuat dengan desain yang terlalu ‘njlimet’ dan mengaburkan pesan yang akan disampaikan. Mengapa tidak dibuat lebih simple dan elegan? Memang, semua terserah pada pembuatnya. Satu lagi, kisah nyata dan pengalaman para pelaku UMKM ini berada di Depok, Jawa Barat, sehingga tidak bisa digeneralisasikan di semua daerah. Bagi yang ingin diaplikasikan di kota atau tempat lain, disarankan untuk memodifikasi dan menyesuaikan dengan daerahnya. (***)

Heru Setiyaka, Bekerja di Perusahaan Konsultan, wira-wiri Yogyakarta – Jakarta

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *