Categories: Review Buku

Andai Pemerintah Mau, Yakinlah Tidak Bakal Mau

Advertisements

Resensi Buku

Judul Buku : Andai Pemerintah Mau
Penulis : Nurudin
Penerbit : Intelegensia Media Malang
Cetakan : Pertama, Maret 2021
Tebal : xx + 156 halaman
ISBN : 978-623-6548-72-1
Harga : Rp 52.000,-

 

Judul buku ini oleh penulis, Nurudin diberi title yang cukup menggelitik, “Andai Pemerintah Mau”. Sesuai dalam pengantarnya, kata Nurudin, judul itu sekadar pengandaian. Dalam kata itu ada harapan, yang tentu saja berpijak pada kondisi realita. Harapan yang diangkat tinggi, tidak mudah diwujudkan. Pengandaian ini juga penting dilakukan di tengah harapan yang kian pupus, saat kita tidak optimistis terhadap sebuah perubahan menuju lebih baik.

Harapan dan mimpi akan kondisi negara ini, agar lebih baik,  tetap harus dikobarkan. Seperti apa yang dikatakan Abraham H Maslow dalam bukunya Motivation and Personality (Motivasi dan Kepribadian), menyebut ada motivasi bawah sadar (unconscious motivations) dan motivasi sadar. Tampaknya, dengan kesadaran diri, Nurudin ingin pengandaian di dalam tulisan-tulisannya mengobarkan mimpi dan menjadikan motivasi bagi pembacanya. Ya,minimal buat dirinya sendiri.

Harus diingat, masih kata Abraham H Maslow, motivasi itu ada kondisi yang memicunya. Hampir semua keadaan organisme apapun, pada dasarnya merupakan pemicu perilaku.  Teori motivasi yang jelas beranggapan, bahwa motivasi itu sifatnya konstan, tak pernah berakhir, fluktuatif, dan kompleks, dan sifat seperti itu pada kenyataannya hampir umum dijumpai dalam setiap keadaan organismic segala urusan. Faktor konstan, tak pernah berakhir, fluktuatif, dan kompleks itu disadari betul oleh penulis, sehingga tulisan ini lahir memang untuk menciptakan keadaan itu, pembaca terus termotivasi. Selalu menjaga dan mengobarkan motivasi diri.

Buku yang ditulis dengan bahasa ngepop ini, terbagi dalam tiga bagian. Masing-masing bagian diberi subjudul yang menarik. Pertama, Aturan Tinggal Aturan, Pelanggaran Jalan Terus. Selanjutnya, bagian kedua, adalah Masyarakat Tak Berdaya, Negara Kuat dan bagian ketiga, Orang Gila, Makin Dicari Karena Berani. Bagian satu, ada 11 tulisan, diawali dengan judul Setiap Tahun Energi Kita Habis dengan Debat Ucapan Natal, hingga judul yang cukup singkat, Cuti. Untuk bagian kedua, ada 10 tulisan, di antaranya berjudul Ustadz Whastapp, Hobi Kok Demo, Sih?, Demo itu Primitif, Tauk?, Pendukung Capres, Belajarlah dari Speak Bola, dan Mengapa Mencatut dan Meneror Muhammadiyah? Lalu, pada bagian ketiga, ada 9 tulisan, dengan judul di antaranya, Wong Edan Garis Lucu, Tiba-Tiba Saya Jadi Kangen Vicky Prasetyo, Mengkaji Ulang Objektivitas Media dalam Pemberitaan Covid-19, dan Harusnya, Orang Tua itu Jadi Guru Penggerak Indonesia Maju. Total tulisan ada 30 media, yang sebelumnya berserakan di berbagai media yang ada di republik ini. Boleh disebut, mulai dari Times Indonesia, Terakota, Okezone, ibtimes, Tugu Malang, lintasbatas, hingga Kumparan. Ya, semua merupakan media online yang berbasis di berbagai kota yang berbeda.

Seperti ditemui di buku atau tulisan di berbagai media sebelumnya, sang penulis selalu mendasarkan pada kisah nyata, baik pengalaman pribadinya atau kisah orang lain untuk mengalami tulisannya. Tentu saja, cerita itu menjadi cantolan tulisan yang menarik dan tentu saja ada kritik halus ala-ala Yogya sebagaimana tempat dia berasal. Contohnya, tulisan dengan judul Apakah Para Politisi itu Mendustakan Agama? Pada bagian pertama buku ini, si penulis mengawali dengan cerita saat berkesempatan Sholat Jumat di Masjid RS Bhayangkara HS Samsoeri Mertojoso, Surabaya. Tidak hanya sholatnya saja yang disampaikan, tetapi juga isi dari kotbahnya. Menariknya, dia menghubungkan dengan beberapa hal, seperti politikus yang mendustakan agama dalam politik. Tentu saja ini menarik, dan di situ sisi smart-nya yang penulis, selalu menghubungkan dengan kondisi yang ada. Dan pasti ada pertanyaan dan kritik yang mengelitik.

“Begitu Jumatan selesai, saya jadi terhenyak. Mengapa khotib itu hanya memberikan khutbah yang selama ini juga disampaikan? Bahkan jamaah juga sudah sering mendengarkannya? Saya kemudian bertanya, mengapa khotib tidak berbicara orang-orang yang mendustakan agama dalam politik?

Orang mungkin bisa alergi, bahwa masjid tidak boleh digunakan untuk persoalan politik. Saat itu juga saya malah bertanya, mengapa masjid tidak boleh membicarakannya masalah politik kalau tujuannya baik? Apakah masjid harus steril dari politik? Kenapa tidak jika persoalannya kebangsaan dan kemasyarakatan bisa diselesaikan dari masjid?” Kutipan tulisan ini ada dalam halaman 12.

Tidak sebatas itu saja, masih banyak tulisan dengan kritik halus namun cukup mengena. Contoh yang sama ada pada tulisan berjudul, Kisah Orang Berambut Cepak dan Berbadan Kekar (halaman 15). Penulis mengungkapkan pengalaman pribadi saat masih kuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan menjadi Pimpinan Umum Majalah Mahasiswa Visi FISIP UNS. Pertemuan dengan pria kekar berambut cepak (militer, intel), menjadi bridging ke inti tulisan soal makar dan kritik yang menukik ke beberapa hal. Seperti, “…setiap gerakan yang berlawanan dengan negara akan dicurigai sebagai Tindakan yang merongrong, makar, provokator, membuat kisruh atau stigma negatif lainnya. Kedua, pentingnya membudayakan membaca secara detail disertai dengan mengkaji ulang setiap teks yang ada. Membaca judul berita saja tidaklah cukup tanpa membaca isinya tak cukup menyimpulkan dan menafsirkan sepihak atau teks jika hanya membaca poster. Ketiga, ancaman kebebasan berpendapat dan berserikat yang dijamin dalam undang-undang belum sepenuhnya ditegaskan di negara ini. Suasana saling curiga masih mewarnai setiap gerak Langkah dalam kebijakan pemerintah dan juga keinginan masyarakatnya. Kaitannya dengan ini, kita sering hanya menyalahkan satu sama lain, tetapi tak mau melihat mengapa itu terjadi.”(Halaman 18)

Lebih dari itu, penulis menegaskan soal dunia kampus. Bahkan, mereka yang masih tinggal di kampus, juga mantan mahasiswa yang sudah keluar dari kampus, melupakan soal kemerdekaan berpendapat di dunia kampus. Tampaknya apa yang selama ini diajarkan dan tentu saja dilindungi oleh undang-undang-soal kebebasan berpendapat-tidak sepenuhnya direalisasikan dalam dunia keseharian. Sungguh tragis bukan?

Pada tulisan-tulisan di bagian kedua, Nurudin lebih ‘gila’ lagi. Terkadang, kita menangkap dua makna dari tulisannya. Apakah benar dia sesuai yang tertulis, atau jangan-jangan hanya sindiran semata. Lihatlah pada tulisan berjudul Terima Kasih Buzzer, halaman 54. Dari judulnya saja, kita dibuat mengerutkan dahi, benarkah dia berterima kasih pada buzzer. Seperti kita tahu, buzzer adalah ‘makhluk menjengkelkan yang hidup di dunia maya.”

Sebelumnya, baiknya kita mengenal apa itu Buzzer. Secara harfiah, berarti alat yang menghasilkan suara yang bising  sehingga menarik perhatian. Jeff Staple, seorang pengamat sosial media menjelaskan, bahwa buzzer adalah seseorang yang didengarkan opininya, dipercayai, dan membuat orang lain bereaksi setelahnya.

Khusus di twitter, tugas dari twitter buzzer tidak terbatas hanya untuk memposting sebuah tweet saja, tetapi juga menjalankan campaign atau rangkaian informasi lebih lanjut kepada para follower-nya. Jadi tugas dari seorang twitter buzzer bisa menjadi layaknya brand ambassador, jadi seorang twitter buzzer juga harus benar-benar mengerti apa yang ia sebarkan ke dunia maya.

Nah, alasan apa kita harus terima kasih dengan keberadaan buzzer? Ternyata, buzzer menjadi musuh bersama dan menjadikan kita bersatu. Alasan lain, buzzer berperilaku buruk dan merugikan mental dan masa depan bangsa ini. Keberadaan buzzer juga membuat kita lebih berhati-hati, dan terakhir, buzzer membuat kita untuk berperilaku lebih beradab, berbeda dengan buzzer yang tidak memiliki adab. Jadi, layaklah kita berterima kasih sembari mengutuk keberadaan buzzer di negeri ini.

Tulisan lain di bagian kedua buku ini, juga berisi autokritik terhadap diri kita, bagaimana maraknya ustad Whatsapp, demo yang menjadikan hobi, perilaku dalam gerbang MRT, hingga tulisan yang sedikit sengak, saat ada pihak yang mencatut dan meneror Muhammadiyah.

Pada tulisan bagian ketiga atau terakhir dari buku ini, kita disuguhkan dengan ide dan wacana yang tidak terduga, bikin kita mengerutkan dahi, dan berpikir lebih dalam. Tentu, bingkainya, tulisan yang renyah, menarik, dan tetap ada kritiknya. Pilihan judul-judul yang membuat kita bergerak menjadi kekuatan dari si penulis. Boleh dibaca, dari judul tulisan pertama di bagian ini, “Wong Edan Garis Lucu, Tiba-Tiba Saya Jadi Kangen Vicky Prasetyo, Menyelami Alam Gaib Penghuni Terminal, Bulu Tangkis itu Muruah Bangsa dan Hana itu yang Kita Punya, Mengkaji Ulang Objektitivtas Media dalam Pemberitaan Covid-19, Rambut Klimis Yes, “Isi Kelapa” No, Tak Gampang Menggantikan Peran Guru, Jadi Guru itu Tidak Harus Pintar, dan Harusnya, Orang Tua itu Jadi Guru Penggerak Indonesia Maju.”

Tulisan Tiba-Tiba Saya Jadi Kangen Vicky Prasetyo (Halaman109), sebenarnya bentuk luapan kekesalan penulis akan kondisi negara ini, terutama para politikusnya. Mereka selalu melakukan retorika yang membosankan, tidak menghibur, dan cenderung mengulang-ulang sesuatu yang rakyat sudah tahu. Salah satunya, janji politik. Rakyat diberi angin surga, begitu terpikat, dan berharap, yang ada adalah di-gosting. Sessuatu yang tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, seperti siklus musim yang datang dan pergi. Sudah begitu, rakyatnya juga tidak kapok juga. Diberi janji surga dan ditipu mentah-mentah. Begitu dan terus begitu.

Kita semua rakyat, sebenarnya juga menginginkan hal sama. Sudah muak dan ingin mencari hiburan saja, yang menyegarkan otak dan memberikan kebahagian diri. Sudah, lupakan saya janji politik dan tutup buku terhadap politisi busuk, bau mulut janji manis yang keluar hanya seonggok sampah.

Dan, buku ini ditulis lebih serius, dengan bahasan soal guru. Tidak hanya satu tulisan, namun tiga sekaligus. Masing-masing dengan petuah dan inti yang berbeda. Tetapi, isinya membahasa sama, peran guru yang begitu mulia.

Bagi Anda, yang membutuhkan olahraga otak, tidak salah sekiranya mengkoleksi buku ini. Tentu saja, membaca satu demi satu dari tulisan ini. Karena, dari tulisan tulisan itu kita diajak untuk berpikir kritis, ada hiburan, dan tentu saja selalu kontekstual dengan kondisi bangsa ini.  Selamat mencari bukunya dan wajib membacanya. terima kasih

Heru Setiyaka

Lulusan Program Magister Psikologi Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, bekerja di perusahaan konsultan di Jakarta.

admin

Recent Posts

Perkara Perdata Nurma Handika Sari Bergulir, Praktisi Hukum Nilai Dasar tuntutan Terhadap Bank

PURWOKERTO - Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto dijadwalkan kembali menggelar sidang perkara perdata dengan tergugat utama…

1 hari ago

Tren Positif, Bank Muamalat Catat Produk Pembiayaan Multiguna iB Hijrah terus Tumbuh

JAKARTA - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat tren positif pada produk pembiayaan Multiguna iB…

1 hari ago

Gandeng LAZNAS BMM dan LAZNAS Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk Hadirkan Program Mukafaah Dai dan Guru Ngaji di Pelosok Negeri

JAKARTA - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk bersama Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Baitulmaal Muamalat…

4 hari ago

Tersedia iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max, Telkomsel Lengkapi Pilihan Bundling Halo dan SIMPATI bagi Pelanggan

JAKARTA - Telkomsel menghadirkan pilihan bundling Halo dan SIMPATI untuk iPhone 18 Pro dan iPhone…

4 hari ago

BEA CUKAI JOGJA, GAGALKAN UPAYA PENYELUNDUPAN SEKITAR 4,2 KILOGRAM EMAS, BERNILAI SEKITAR 11 MILYAR, DI BANDARA YIA

YOGYAKARTA – Bea Cukai Yogyakarta menggagalkan upaya pengeluaran 4.266 gram atau sekitar 4,2 kilogram padatan…

4 hari ago

Produk Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Tembus Rp1,9 Triliun

JAKARTA - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat lonjakan signifikan pada produk pembiayaan Solusi Emas…

1 minggu ago