Penataan Sektor Kepariwisataaan, Pemkab Nagan Raya Gandeng Puspar UGM
ACEH – Ppemerintah daerah perlu menata sektor kepariwisataan. Salah satu yang harus disiapkan adalah soal keberadaan Peraturan Daerah atau Qanun tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten (Ripparkab). Alasan untuk persiapan penerbitan Qanun tentang pariwisata tersebut yang mendorong Pemerintah Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh mengandeng Pusat Studi Pariwisata Universitas Gajah Mada (UGM) menyiapkan dokumen teknis Ripparkab dan draft qanun jangka waktu 2022-2025.
“Pihak pusat dalam hal ini Kementerian Pariwisata selalu bertanya perihal dokumen ini, terlebih bila ada dari daerah yang mengharapkan fasilitasi dalam upaya pembangunan pariwisata,” ungkap Ketua Komisi D DPRK Nagan Raya Sigit Winarno saat memberi tanggapan terkait akhir Penyusunan Ripparkab dan Rancangan Qanun Ripparkab Kabupaten Nagan Raya dalam sebuah seminar yang berlangsung di Aula Bappeda Kabupaten Nagan Raya Aceh, Selasa (30/11/2021).
Pada seminar hasil kerja sama Pemkab Nagan Raya dengan Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM tersebut, Sigit menandaskan pihak legislatif Kabupaten Nagan Raya mendukung kajian ini dan berharap dinas-dinas teknis bisa mendukung qanun ini sebagai langkah strategis bagi pemerintah membangun sektor wisata. Menurutnya, yang tidak kalah penting adalah perlunya mempersiapkan sejak dini kegiatan wirausaha bagi masyarakat di sekitar objek wisata.
“Semua itu perlu dilakukan, agar saat wisata dibuka mereka sudah siap untuk menyediakan kebutuhan bagi wisatawan,”tegasnya.
Seminar yang dibuka Sekda Kabupaten Nagan Raya, Ir. H. Ardimartha dan hasil kajian tim Puspar UGM dipaparkan Dr. Destha Titi Raharjana, S. Sos., M.Si., Wijaya, S. Hut., M.Sc., dan Bimo Fajar Hantoro, SH,. Tim Puspar UGM menegaskan perlunya dukungan segenap pemangku kepentingan agar akselerasi pembangunan potensi pariwisata Nagan Raya bisa memberikan kemanfaatan bagi masyarakat dan daerah.
Banyak peluang untuk pengembangan produk wisata religi, wisata alam, dan wisata budaya. Potensi yang sangat besar tersebut akan berjalan terlebih dengan dibukanya kembali bandar udara Cut Nyak Dien.
“Kami meyakini mampu menjadi main gate untuk mengenalkan destinasi pariwisata Nagan Raya di tingkat nasional, bahkan internasional,” tegas Destha.
Destha menambahkan, segmen wisatawan mancanegara seperti Malaysia potensial untuk digaet agar bisa melengkapi pengalaman wisata religinya selama berwisata di Aceh. Keberadaan Masjid Baitul A’la atau lebih dikenal dengan Masjid Giok yang masih dalam proses finishing diharapkan mampu menjadi ikon penarik wisatawan dari negeri jiran.
Wijaya, peneliti Puspar UGM menyampaikan analisisnya menyangkut perwilayahan pariwisata yang mencakup empat kawasan pengembangan pariwisata kabupaten (KPPK) dan empat kawasan strategis pariwisata kabupaten (KSPK). Empat KPPK tersebut adalah religi, wisata sungai dan danau, wisata pantai, dan ekowisata. Sedangkan empat KSPK mencakup KSPK perkotaan Suka Makmue dan sekitarnya bertema pengembangan wisata religi didukung wisata kuliner, belanja dan kerajinan, dan KSPK Danau Laot Tadu dengan tema pengembangan wisata rekreasi danau dan sungai dengan Danau Laot Tadu, Krueng Isep dan Bendungan Irigasi Jeuram sebagai daya tarik wisata unggulan.
“Juga, KSPK Kuala Pesisir dan Tripa Makmur dengan tema pengembangan wisata alam pantai dengan objek wisata Pantai Naga Permai, Lhok Raja, dan Kuala Tripa sebagai unggulan, serta KSPK Beutong Ateuh Banggalang dengan tema pengembangan ecotourism berbasis situs persinggahan pahlawan nasional Cut Nyak Dien, atraksi arung jeram sungai Beutong, jelajah hutan alam, dan wisata budaya,” paparnya.(tim redaksi)











