My Journey Sabet Juara 1 Lomba Inovasi Digital Mahasiswa
YOGYAKARTA – Siswa disabilitas tunanetra sering mengalami kesulitan melakukan pelawatan mandiri, yaitu orientasi dan mobilitas yang bisa dilakukan secara mandiri tanpa membutuhkan alat bantu maupun bantuan orang lain.
Guna membantu para penyandang tunanetra dalam memudahkan bermobilitas, sekelompok mahasiswa Prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) merancang My Journey. Mereka adalah Dewi Meiliyan Ningrum, Kenanga Kusuma Murdiyani, Ardian Haryo Suseno, dan Khairil Mursyidin.
Dewi Meiliyan Ningrum mengatakan, inovasi pada aspek pembelajaran My Journey ini meliputi penggunaan media hingga evaluasi pembelajaran dalam membantu peserta didik hambatan penglihatan melawat mandiri ke toko/swalayan.
“Pada media kami mengintegrasikan dengan beberapa aplikasi seperti Lookout dan google maps yang sekaligus menjadi teknologi asistif ditambah dengan talkback di masing-masing handphone peserta didik. Kemudian, tahapan evaluasinya kami menggunakan padlet yang sudah bisa terakses dengan talkback juga dapat melampirkan audio maupun foto yang memfasilitasi berbagai gaya belajar peserta didik,” kata Dewi Meiliyan, pekan lalu Sabtu (8/7/2023).
Tidak hanya jenis hi-tech, tetapi juga low-tech seperti tongkat tunanetra dan peta string yang merepresentasikan bentuk jalan.
Sedangkan Kenanga Kusuma Murdiyani menambahkan, fungsi google maps adalah sebagai penunjuk rute menuju lokasi yang ingin dituju.
“Cara penggunaannya, yakni mengaktifkan GPS terlebih dahulu, membuka aplikasi google maps, masukkan nama lokasi yang hendak dituju, pilih opsi ‘rute’, kemudian pada bar atas pilih jalan kaki,” jelas Kenanga.
Sedangkan fungsi lookout, untuk mengenali benda atau nama produk yang hendak dibeli. Cara menggunakan aplikasi Lookout adalah dengan memilih mode yang akan digunakan. Misalnya, hendak mencari barang, maka gunakan mode jelajah, arahkan kamera handphone ke objek yang akan diidentifikasi, dan dengarkan deskripsi visualnya.
Dikatakan Ardian Haryo Suseno, pada mulanya mereka melakukan asesmen diagnostik dalam menentukan kemampuan awal dan kesiapan belajar siswa, hingga diketahui bahwa kemampuan yang paling rendah adalah orientasi mobilitas. Karenanya, dibuatlah inovasi microteaching orientasi mobilitas materi melawat mandiri berbantuan teknologi asistif yang dinamai My Journey. Pada akhirnya siswa mampu menunjukkan keterampilannya dalam melawat mandiri.
Aspek komunikasi siswa juga terbangun dari interaksinya dengan masyarakat saat berjalan ke luar sekolah dan saat membeli barang di toko. My Journey ini merupakan aplikasi microteaching yang bisa digunakan para guru dalam membimbing siswanya yang berkebutuhan khusus.
Karya ini membawa para mahasiswa tersebut menjuarai Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) pada divisi Microteaching Digital yang diselenggarakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Dosen pendamping tim Rendy Roos Handoyo MPd gembira dengan capaian tersebut dan berharap karya mahasiswa tersebut bisa memberikan manfaat, bukan hanya bagi UNY, namun juga bagi para guru di Indonesia.
Terakhir, Khairil Mursyidin berkeinginan, karya tersebut bisa membantu guru-guru di sekolah luar biasa (SLB) mengintegrasikan teknologi dengan pembelajaran.
“Karya ini sudah didaftarkan di HKI, sehingga bisa diperbanyak modul ajarnya, kemudian dipakai di sekolah,” pungkas Khairil.(Arumi/Tim Redaksi)











