Prof. Dr. Anggito Abimanyu saat memberikan penjelasan mengenai literasi keuangan.

Ada 51 Juta Orang yang Belum Miliki Rekening Simpanan, LPS Terus Tingkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan 

Advertisements

YOGYAKARTA – Jumlah penduduk Indonesia yang belum memiliki rekening simpanan mencapai sekitar 51 juta orang atau 19,9% dari populasi penduduk usia 5– 74 tahun. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bersama lembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya terus aktif memperluas basis masyarakat menabung. Caranya dengan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Dewan Komisioner LPS, Prof. Dr. Anggito Abimanyu saat media gathering Jateng-DIY, Sabtu (15/11/2025).

Pada kesempatan tersebut, Anggito juga mengajak Masyarakat luas, khususnya yang ada di Yogyakarta untuk menabung di bank.

Hingga September 2025, lanjut Anggito, total nilai simpanan nasabah di perbankan nasional mencapai Rp 3.973,68 triliun dengan komposisi tabungan 63,28%, deposito 34,35%, dan giro 2,37%.

“Jumlah rekening simpanan di perbankan nasional mencapai 610,27 juta rekening dengan komposisi 98,76% rekening tabungan, 0,95% rekening deposito, dan 0,30% rekening giro,” paparnya.

Untuk perbankan di DIY, Anggito menyebut total nilai simpanan nasabah perbankan mencapai Rp 63,16 triliun. Komposisinya, tabungan 70,81%, deposito 28,37%, dan giro 0,82%. Adapun jumlah rekening simpanan di perbankan DIY mencapai 9,07 juta rekening dengan komposisi 98,12% rekening tabungan, 1,64% rekening deposito, dan 0,25% rekening giro.

“Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Yogyakarta juga menunjukkan aktivitas bisnis yang ekspansif. Ini tecermin dari pertumbuhan giro dan deposito yang meningkat dibanding tiga tahun lalu, imbuh Anggito.

Secara keseluruhan, komposisi produk dalam total DPK juga relatif stabil. DPK perbankan DIY hingga Oktober 2025 ini tumbuh 4,95% (yoy). Penyaluran kredit secara year-on-year (YOY) mengalami perlambatan pada Oktober 2025. Namun, penyaluran kredit modal kerja masih mencatatkan pertumbuhan double digit. Jika dilihat dari porsi penyalurannya, kredit modal kerja memegang porsi terbesar dari total kredit yang disalurkan di Yogyakarta.

“LPS, bersama lembaga lain, yakni OJK, BI, dan serta pihak kampus terus berperan aktif dalam memperluas basis masyarakat menabung. Beberapa program edukasi dan literasi terus dilanjutkan,” tegasnya.

Bahkan, pada tahun 2026, LPS kembali akan berkolaborasi dengan lembaga lain dan perbankan untuk menyelenggarakan Financial Festival di Yogyakarta dan Makassar. Tahun 2025 ini, Financial Festival sudah dilaksanakan di Surabaya dan Medan.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk memiliki rekening di bank yang dijamin LPS dengan mengikuti ketentuan, baik tingkat bunga penjaminan untuk bank konvensional dan jumlah maksimum penjaminan agar dana masyarakat aman. Jangan tergoda pada penawaran bank yang melebihi ketentuan. LPS bakal hadir dalam Financial Festival bersama dengan Indiustri Keuangan di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kota Yogyakarta pada Mei 2026, untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang keuangan,” katanya.

Seperti diketahui, aset LPS terus tumbuh, investasi prudent dan aman. Total aset LPS per September 2025 mencapai Rp 272,09 triliun atau naik 11,90% dari posisi Desember 2024. Komposisi aset terdiri dari investasi 92,75%, kas dan piutang 6,43%, aset program restrukturisasi perbankan 0,49%, aset tetap dan aset tidak berwujud 0,11%, serta aset lainnya 0,22%.

Saat ini, cadangan penjaminannya 2,14% dari total simpanan perbankan. Sementara UU LPS mengamanatkan untuk target 2,5% dari total simpanan perbankan di Indonesia.

Tahun 2025, premi penjaminan simpanan yang diterima LPS dari perbankan Rp18,54 triliun. Rinciannya, Rp18,20 triliun dari bank umum dan Rp348,50 miliar dari BPR/BPRS. Batas nominal penjaminan LPS yang berlaku saat ini sebesar Rp 2 miliar per nasabah per bank.

Kini, LPS semakin efisien, memupuk modal (cadangan penjaminan) untuk menjaga kepercayaan nasabah perbankan. Surplus sebelum pajak (pendapatan – beban) per September 2025 sebesar Rp 28,71 triliun. Di mana, komposisi sumber pendapatan LPS adalah 59,49% dari pendapatan premi penjaminan, 38,61% dari pendapatan hasil investasi, 0,29% dari pendapatan pengambalian klaim, dan 1,61% dari pendapatan lainnya.

Dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan, LPS terus mendorong efektivitas resolusi bank. Sepanjang 2024 hingga Oktober 2025, terdapat 27 BPR/S yang masuk dalam penanganan LPS. Adapun rinciannya adalah 24 BPR/S dilikuidasi, 1 BPR diselamatkan melalui skema bail-in, dan 2 BPR/S dalam proses penanganan.

Pada September 2025, Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS turun 25 bps dari 3,75% menjadi 3,50% untuk Rupiah di bank umum. Rata-rata suku bunga simpanan perbankan masih berada di atas TBP. Proporsi nasabah yang mendapatkan suku bunga simpanan di atas TBP sekitar 13% pada 2022 menjadi 32% pada September 2025. (Arumi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *