Dunia Akademik Jawab Tantangan Kebencanaan, Kearifan Lokal Jadi Kunci
YOGYAKARTA – Satu satu upaya nyata dari dunia akademik dalam menjawab tantangan kebencanaan di Indonesia adalah menyiapkan dasar bagi pengembangan model media literasi kebencanaan yang tidak hanya mengedepankan aspek teknis kebencanaan. Tidak hanya itu, mereka juga mengintegrasikan nilai, tradisi, dan pengetahuan lokal masyarakat setempat.
Selanjutnya, mereka menempatkan kearifan lokal sebagai bagian penting dari strategi mitigasi, bukan sekadar pelengkap kebijakan yang bersifat teknokratis.
Hasil tersebut merupakan hasil dari Tim peneliti Mora Air Fund yang menyelesaikan rangkaian survei lapangan di lima provinsi dengan indeks risiko bencana tertinggi di Indonesia. Yakni, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Aceh, dan Sulawesi Barat.
Seperti diketahui, kegiatan tersebut merupakan bagian dari riset yang didanai melalui skema Hibah Indonesia Bangkit. Adapun penelitian yang dilakukan mengambil judul “Inovasi Media Literasi Kebencanaan Berbasis Kearifan Lokal untuk Penguatan Implementasi Kebijakan Pengurangan Risiko Bencana di Indonesia.”
Nantinya, inovasi yang dihasilkan dari tim peneliti diharapkan lebih mudah diterima dan diterapkan oleh masyarakat di wilayah rawan bencana, sekaligus memperkuat implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana secara nasional.
Ketua tim peneliti Dr. Astri Hanjarwati, M.A., menyampaikan, survey ini menjadi bagian penting pengumpulan data kuantitatif sebagai dasar analisis untuk tahap penelitian berikutnya.
“Kegiatan survey dilakukan oleh 10 orang surveyor, dibagi masing-masing 2 orang untuk 5 daerah rawan bencana. Sedangkan jumlah responden di masing-masing daerah ada 25 orang untuk NTT, Sulawesi Barat, dan Maluku. Sementara untuk Aceh dan Yogyakarta masing-masing 50 orang. Teknis pengumpulan data menggunakan aplikasi Kobotoolbox untuk memudahkan teknis tanpa mengurangi validitas data” jelas Astri.
Tim Lintas Disiplin dan Lintas Institusi
Riset tersebut diketuai Dr. Astri Hanjarwati, M.A., dengan melibatkan tim peneliti lintas disiplin dan lintas institusi. Anggota tim terdiri atas Dr. Fatma Dian Pratiwi, M.Si., Tasril Mulyadi, S.Pd. dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat (BNPB), serta Indra Yohannes Killing, staf pengajar di Taylor’s University, Malaysia.
Penelitian tersebut juga didukung Very Julianto sebagai Koordinator lapangan dan Fanesa Oktavia, S.Ikom, yang berperan sebagai asisten peneliti.
Komposisi tim yang menggabungkan akademisi, praktisi kebencanaan dari BNPB Indonesia, serta peneliti dari perguruan tinggi luar negeri mencerminkan pendekatan kolaboratif yang menjadi ciri khas riset ini, sekaligus memastikan hasil penelitian bisa relevan secara akademis maupun aplikatif bagi kebijakan pengurangan risiko bencana di lapangan.
Riset sendiri berfokus pada pengembangan inovasi media literasi kebencanaan yang memanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal sebagai strategi untuk memperkuat implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana. Pendekatan berbasis kearifan lokal dipilih karena dinilai relevan dengan kondisi Indonesia sebagai negara dengan tingkat kerawanan bencana tinggi sekaligus memiliki keragaman budaya yang bisa menjadi modal sosial dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.
Adapun pemilihan lima provinsi tersebut tidak dilakukan secara acak. Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Aceh, dan Sulawesi Barat merupakan wilayah-wilayah dengan indeks risiko bencana tertinggi di Indonesia, sehingga dinilai representatif untuk menggambarkan tantangan sekaligus praktik kearifan lokal dalam mitigasi bencana di berbagai konteks geografis dan budaya.(Arumi)










