Taman Budaya Embung Giwangan Jogja, Perpaduan Pelestarian Alam Dan Budaya
YOGYAKARTA – Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG), merupakan contoh nyata dari semangat integrasi antara pelestarian alam dan budaya. Sebagai ruang hidup yang menyeimbangkan fungsi ekologis dan fungsi kultural. Embungnya menjaga air dan lingkungan, tamannya membuka ruang interaksi dan ekspresi warga. Di samping itu lokasinya di kawasan selatan Yogyakarta menjadikan taman ini sebagai simpul yang menyatukan aktivitas seni dan budaya dengan kegiatan rekreasi warga. Demikian disampaikan Gubernur DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), Sri Sultan Hamengku Buwono X, ketika meresmikan TBEG di jalan Tegalturi No. 43, Giwangan, Yogyakarta, pada Jumat malam (23/5).
“Momentum aktivasi TBEG, bukanlah sebuah akhir. Justru sebaliknya, ini adalah awal dari kolaborasi yang lebih luas. Saya mengajak semua elemen yang ada mari bersama kita hidupkan tempat ini, dengan semangat gotong royong, semangat kesenian, dan semangat menjaga bumi”, lanjutnya.
Sultan juga mengajak semua pihak merealisasikan komitmen, agar TBEG tidak hanya menjadi titik kunjungan. Tetapi menjadi titik pergerakan, ruang yang terus dihidupi oleh aktivitas, partisipasi warga, kreativitas anak-anak muda dan semangat untuk merawat lingkungan bersama-sama. Mengingat pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Butuh keterlibatan semua pihak, agar TBEG dapat bermakna, berkelanjutan, dan membawa kebaikan bagi semua.
Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengungkapkan TBEG merupakan sebuah kawasan yang dikembangkan dengan konsep pelestarian seni, budaya, tradisi dan konservasi lingkungan, yang dirancang dengan ciri khas Indisch klasik dan menjadi penguat pada Kawasan Cagar Budaya di Kota Yogyakarta. Terutama karena letaknya berdekatan dengan Kawasan Cagar Budaya Kotagede.
“TBEG memiliki luas 3,49 hektare, dikembangkan secara bertahap dengan dukungan Dana Keistimewaan, Dana Alokasi Khusus dari pemerintah pusat dan APBD Pemkot Yogyakarta. Adapun fasilitas yang terbangun adalah Embung, Jogging Track, Gedung Entrance yang berisi ruang pengelola, ruang rapat, musala, menara pandang dan mini galeri. Selain itu ada Panggung terbuka dengan luas 1,091 meter persegi, dan Grha Budaya yang merupakan gedung pertunjukan berupa ruang pameran dan auditorium dengan kapasitas 459 kursi. Termasuk fasilitas pendukung seperti toilet, area parkir dan kios cinderamata”, tambahnya
Hasto menyatakan TBEG memadukan antara konsep pelestarian seni budaya dan konservasi lingkungan sekaligus sebagai wadah apresiasi dan kreasi bagi masyarakat dalam pengembangan kebudayaan. TBEG telah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, baik dalam lingkup seni budaya maupun kegiatan publik lainnya.
“Kami juga berharap tempat ini menjadi bagian untuk expose karya seni budaya sebagai penanda bahwa Yogya bisa menjadi center of excellence, center of refereall dalam bidang seni budaya dan menjadi sebuah pusat pengembangan dan pelestarian seni budaya yang lengkap dan memadai. Bahkan kalau dimungkinan ada pasar seni yang bisa diakses setiap orang ke Yogya kalau mau beli karya seni seniman di Yogya ada tempat jujugannya,” harapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, di tempat yang sama menjelaskan bahwa TBEG dibangun sejak tahun 2019, secara bertahap, dimulai pembangunan embung yang luasnya 1/3 luas TBEG, diakhiri pembangunan Grha Budaya. Operasionalnya akan ditangani Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui UPT (Unit Pelaksana Teknis) Pengelolaan Taman Budaya, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, yang akan menggelar pertunjukan reguler berupa kesenian rakyat yang dikemas menarik, setiap minggu.
Peresmian ditandai dengan penanda tanganan prasasti, sebagi penanda TBEG, oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, disaksikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Yogyakarta, pejabat Forkompimda Kota Yogyakarta dan Pejabat terkait di lingkup Pemerintah Kota Yogyakarta dan DIY. Kemudian launching Jogja Cultural Show, berupa tari Kenes’an dan SeSe Hokse di Panggung Budaya (amphitheater) dan sendratari “Sang Pangaribawa” di Grha Budaya, yang menceritakan keteladanan dan kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang dimainkan seniman dan seniwati Kota Yogyakarta. (Norsita)











