Teknologi Informasi Bantu Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Potensi Lokal
YOGYAKARTA – Pada era digital sekarang ini, teknologi informasi memiliki peran yang strategis membantu memberdayakan potensi anggota masyarakat. Kehadiran teknologi informasi perlu disikapi memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Setiap individu dalam masyarakat memiliki potensi yang siap untuk dikembangkan dan diberdayakan. Berdayanya anggota masyarakat dipengaruhi motivasi internal (softskills) dan motivasi eksternal. Seperti, kehadiran orang lain, lingkungan, fasilitas, media, kultural, struktur masyarakat dan sebagainya.
Pemberdayaan hendaknya diawali melalu proses penyadaran masyarakat dalam menemukan kondisi, masalah, kebutuhan, dan potensi yang dimiliki sebagai modal awal pengembangan potensi melalui pemberian kapasitas (pemberian daya), memanfaatkan daya, mengelola daya dan mengembangkannya secara fungsional. Karena itu, diperlukan strategi yang taktis, efektif, efisien, dan produktif.
Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Pemberdayaan Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Sujarwo mengatakan, pemberdayaan masyarakat adalah membangkitkan potensi yang ada dalam diri individu atau kelompok dan lingkungannya dengan memberikan dorongan, memberikan kesadaran akan potensi yang dimiliki, memberikan kapasitas, mengelola, mengembangkan dan menindaklanjuti berbagai program yang ada menuju perubahan masyarakat yang berdaya guna dan memiliki kemampuan memperbaiki kehidupannya.
“Setiap masyarakat memiliki adat istiadat, kebiasaan dan aturan yang disepakati bersama oleh anggota masayarakat. Kehadiran orang luar ke suatu wilayah tertentu, harus memperhatikan etika, adat istiadat di masyarakat, dan norma yang berlaku dimasyarakat” kata Sujarwo di Kampus UNY, Selasa (3/1/2023).
Sujarwo melanjutkan, karenanya potensi lokal yang berwujud kondisi lingkungan, sumber daya manusia (SDM), sumberdaya alam (SDA), budaya masyarakat, dan segala sesuai yang mendukung kehidupan masyarakat perlu diberdayakan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pria kelahiran Karanganyar tanggal 30 Oktober 1969 ini menjelaskan, pada era sekarang ini penggunaan teknologi informasi bisa membantu pemberdayaan masyarakat. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (digital) untuk melakukan perubahan di dalam pemberdayaan masyarakat menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Peralihan dari teknologi analog menjadi teknologi digital membantu mempercepat pekerjaan dan informasi.
“Di samping keuntungan yang didapat, ada ancaman terhadap penerapan teknologi digital, sehingga literasi digital dalam pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan,” tegas Sujarwo.
Dalam aspek pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal, teknologi informasi dan komunikasi digunakan untuk mengembangkan kreativitas masyarakat. Misalnya, aplikasi digital untuk data based dan kreasinya seperti Microsoft Office, Excel, Macroflash, dan Lectora digunakan untuk presentasi. Juga bisa meningkatkan kolaborasi, misalnya penggunaan aplikasi web jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan sebagainya, dimanfaatkan dalam kegiatan pelatihan dan pemberdayaan masyarakat, memperlancar komunikasi melalui penggunaan fasilitas yaitu instagram, e-commerce, e-mail dan e-course yang memungkinkan anggota masyarakat berinteraksi satu sama lain, fasilitator, pemimpinnya, bahkan dengan stakeholder yang cenderung membantu proses akademik dan non-akademik.
Teknologi informasi juga berfungsi sebagai media pembelajaran. Baik bagi fasilitator maupun anggota masyarakat untuk melakukan presentasi dan belajar secara mandiri, menggunakan website dan multimedia. Aplikasi yang bisa digunakan misalnya virtual reality, augmented reality, atau fixed reality.
Doktor bidang Ilmu Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang (UNM) ini menyatakan, saat ini dicanangkan berbagai aplikasi untuk membantu pemberdayaan masyarakat, terutama masyarakat desa. Transformasi digital desa menawarkan beragam aplikasi digital untuk perbaikan layanan masyarakat, digital society, terkait kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan TIK secara bijak dan produktif, serta terbangunnya revolusi sosial 5.0, yakni masyarakat digital yang menjadikan hubungan sosial yang baik sebagai pondasi kehidupannya.
Selanjutnya, digital economy merupakan dukungan segenap pelaku ekonomi. Baik di tingkat desa, lokasi regional, nasional hingga internasional bagi tumbuhnya ekonomi desa. Aplikasi yang dicanangkan meliputi aplikasi Sistem Desa dan Kawasan New Generation (Sideka-NG), Profil Desa dan Kelurahan (Prodeskel), Sistem Keuangan Desa (Siskeudes), dan Sistem Pengelolaan Aset Desa (Sipades).
Alat bantu untuk memberikan kemudahan dan percepatan pelaksanaan program, yaitu pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi atau digitalisasi kegiatan dalam persiapan, pelaksanaan, evaluasi, publikasi sampai pada program tindak lanjut diperlukan agar serangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dapat terlaksana secara efektif, produktif, dan efisien.(tim redaksi)











