Pameran Kartu Pos “Solo Murakabi x Pen & Postcard 2023” digelar di Museum Radya Pustaka, Surakarta
SOLO-Secara historis, korespondensi mulai marak dengan kehadiran layanan pos di Solo, pada pertengahan abad 19, efek simultan lahirnya kebiasaan korespondensi dengan kartupos di Hindia Belanda pada tahun 1874. Kartu pos yang diterbitkan Dinas Pos pemerintah, menjadi era baru dalam korespondensi. Sehingga Pada tahun 1890-an kartu pos bergambar mulai dicetak secara partikelir. Demikian disampaikan Uul Jihadan, Pendiri Komunitas Jejak Kartu Pos Indonesia, pada Jumat (24/11) melalui rilisnya tentang pameran kartu pos Solo Murakabi x Pen & Postcard 2023 yang bertajuk “Solo dalam bingkai Kartu Pos” , diselenggarakan Komunitas Jejak Kartu Pos Indonesia berkerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata , Kota Surakarta.
“Pameran yang telah dibuka pada Rabu lalu, oleh Aryo Widyandoko, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwsata, Kota Surakarta, banyak menampilkan kartu pos dengan visual kota Solo, terbitan beberapa perusahaan di Solo dan perusahaan luar kota Solo yang menerbitkan kartu pos dengan visual bangsawan Kraton Surakarta”, lanjut Uul.
Secara tidak langsung, menurut Uul, kartu pos merekam situasi pada masanya sekaligus perubahan-perubahan pada masa mendatang. “Visualisasi dan informasi yang tersurat dalam lembaran kartu pos, dapat digunakan untuk menelusuri dinamika sebuah kota dan kehidupan masyarakat, yang luput terdokumentasi. Oleh karenanya, kartupos tidak hanya sebagai media korespondensi semata, tetapi juga visualisasi arsip sejarah”, tambahnya
Uul mengungkapkan bahwa dukungan UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Museum, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, sangat besar, karena dilandasi persamaan tekad untuk menjadikan Kota Surakarta sebagai ruang pariwisata, ruang riset, ruang damai, dan ruang diskusi. “Pameran ini tidak sekedar menghadirkan potret lawas Solo, tapi diharapkan mampu membuat publik menginterprestasikan dan membaca segala kemungkinan sejarah” jelas Uul.
Sementara itu, Aryo Widyandoko, Kepala Dinas Kebudayaan dan Parwisata Kota Surakarta menyatakan bahwa dari pameran ini, bisa mempelajari selembar Kartu Pos yang dapat bebicara dulu, kini dan masa depan tentang keadaan Solo. Sehingga menambah daya tarik museum untuk selalu hidup sebagai ruang kreatif, ruang diskusi yang banyak dinikmati.
Senada dengan Aryo Widyantoko, Kepala UPTD Museum, Bonita Rintyowati , mengemukakan dengan pameran ini diharapkan kunjungan masyakarat ke Museum Radya Pustaka akan meningkat, sesuai target yang ditentukan, sekitar 2.000 orang per-bulan.
Menutup penjelasannya Uul mengatakan bahwa pameran dibuka untuk umum, dikuratori Nanang Setiawan dan Martha Setyowati, menampilkan sekitar 100 lembar kartu pos, dan akan berlangsung hingga 30 November 2023 di Museum Radya Pustaka Surakarta, Jalan Slamet Riyadi, Laweyan, Surakarta.
“Dari Kartu Pos kita dapat menelisik tentang sejarah kota dan situasi pada waktu itu. Saat ini penggemar kartu pos yang tergabung dalam komunitas, sekitar 9.000 orang dan sekitar 805.000 orang di seluruh dunia”, imbuh Uul.(Norwind/ Tim Redaksi)











