Peserta asyik mengerjakan tugas dalam sebuah lomba.

Saat Generasi Z Menemukan Cara Baru Mencintai Bahasa Jawa

Advertisements

Dari Kompetisi Bahasa dan Sastra Kota Yogyakarta Tahun 2026

YOGYAKARTA – Kecintaan terhadap bahasa Jawa ternyata tidak memudar di tengah derasnya arus digital. Di Kota Yogyakarta, generasi Z justru menunjukkan cara baru dalam merawat bahasa, sastra, dan aksara Jawa. Mereka tidak selalu hadir melalui ruang-ruang tradisional. Namun, dengan mengekspresikannya lewat kreativitas, semangat belajar, dan keberanian tampil di berbagai ajang apresiasi budaya.

Fenomena tersebut tercermin dari tingginya partisipasi generasi muda dalam Kompetisi Bahasa dan Sastra Kota Yogyakarta Tahun 2026. Kompetisi tersebut diadakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menilai, tingginya partisipasi tersebut menjadi penanda bahwa bahasa dan aksara Jawa masih memiliki tempat yang kuat di hati generasi muda.

“Kami melihat semakin banyak pelajar dan anak muda yang memiliki ketertarikan terhadap bahasa dan aksara Jawa. Ini merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan sekaligus memberi optimisme bahwa bahasa dan sastra Jawa akan terus memiliki generasi penerus,” jelas Yetti, saat membuka Final Kompetisi Bahasa dan Sastra Kota Yogyakarta Tahun 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, beberapa waktu lalu (8/7/2026).

Yetti melanjutkan, cara generasi muda mencintai budaya kini sudah jauh berbeda. Dahulu kala, pelestarian banyak dilakukan melalui pewarisan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Kini, generasi Z menghadirkannya melalui ruang-ruang kreatif yang akrab dengan kehidupan mereka. Mulai dari pertunjukan, komunitas, karya digital, media sosial, hingga berbagai bentuk kolaborasi lintas disiplin.

“Tugas kita bukan meminta mereka kembali ke masa lalu, melainkan memastikan bahasa, sastra, dan aksara Jawa ikut melangkah bersama masa depan. Selama generasi muda memiliki rasa bangga, rasa memiliki, dan ruang untuk berekspresi, kami optimistis bahasa Jawa akan terus hidup dan berkembang mengikuti dinamika zaman,” ujarnya.

Kompetisi Bahasa dan Sastra, lanjut Yetti, menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan generasi muda dengan akar budayanya. Lebih dari sekadar ajang mencari juara, kegiatan ini merupakan proses pembinaan dan pewarisan nilai-nilai budaya melalui bahasa.

Dalam kompetisi tersebut, para peserta tidak hanya menunjukkan kemampuan nembang macapat, membaca geguritan dan cerkak, berpidato melalui sesorah, menjadi panatacara, mengalihaksarakan naskah Jawa, maupun mendongeng. Mereka juga tengah belajar memahami nilai-nilai yang hidup di balik setiap kata, tutur, tembang, dan aksara.

“Masyarakat Jawa memiliki pepeling ajining dhiri dumunung ana ing lathi. Martabat manusia tercermin melalui bahasanya. Bahasa membentuk budi pekerti, sementara sastra menumbuhkan kehalusan nurani. Karena itu, menjaga bahasa dan sastra sejatinya adalah menjaga masa depan,” tutur Yetti.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap ekosistem pendidikan yang turut menghidupkan bahasa dan sastra Jawa, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta juga memberikan penghargaan kepada sekolah-sekolah yang secara konsisten mengirimkan peserta terbanyak. Sebanyak 97 sekolah berpartisipasi dalam penyelenggaraan kompetisi tahun 2026 ini. Hal tersebut menunjukkan pelestarian bahasa daerah tumbuh melalui sinergi antara sekolah, guru, orang tua, komunitas, dan pemerintah.

Sementara itu, Kasie Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Ismawati Retno menambahkan, sebanyak 767 peserta mengikuti berbagai cabang kompetisi. Ini meliputi nembang macapat, maca geguritan, maca cerkak, sesorah, panatacara, Alih Aksara Jawa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, serta lomba mendongeng tingkat umum.

Dari jumlah tersebut, 148 peserta mengikuti final cabang Alih Aksara Jawa. Sementara, 115 peserta lainnya berhasil melaju ke babak final setelah melalui seleksi video. Kompetisi tersebut juga melibatkan 97 sekolah dari jenjang SD, SMP, hingga SMA di Kota Yogyakarta.

Bagi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, ratusan peserta yang mengikuti kompetisi ini bukan sekadar angka statistik.Mereka meurupakan wajah-wajah muda yang tengah membuktikan, bahasa Jawa tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, namun terus menemukan kehidupan baru di tangan generasi penerus. Saat bahasa tetap dituturkan, sastra terus diciptakan dan aksara Jawa terus dipelajari, saat itulah Yogyakarta tengah menyiapkan masa depan kebudayaannya.(Arumi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *